Kamis 08 Jul 2021 05:45 WIB

Alasan Muslim Rahasiakan Masakan Saat Kristen Rebut Granada

Pemerintahan Kristen di Granada memaksa umat Islam beralih agama

Rep: Rossi Handayani/ Red: Nashih Nashrullah
Pemerintahan Kristen di Granada memaksa umat Islam beralih agama. Alhambra saksi kejayaan Islam di Granada Spanyol
Foto: zonetourismworld.com
Pemerintahan Kristen di Granada memaksa umat Islam beralih agama. Alhambra saksi kejayaan Islam di Granada Spanyol

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pada 1492, pemerintahan Islam di Granada jatuh ke tangan Raja Castila, sehingga mengakhiri era penting sejarah Islam. Setelah keruntuhan ini, umat Muslim ada yang tetap mempertahankan keyakinan mereka. 

Dilansir dari laman Arabic Post pada Rabu (7/7), pada awalnya Muslim diperbolehkan untuk menjalankan agamanya. Namun lama kelamaan pengaruh Katolik semakin menguat, praktik ritual Islam tidak diperbolehkan, dan mereka yang tidak pindah agama menjadi Kristen akan diusir. 

Berdasarkan penelitian yang diterbitkan Springer Link, lewat penggalian arkeologi di reruntuhan Granada baru-baru ini mengungkapkan bukti bahwa umat Islam terus mempraktikkan adat dan tradisi mereka secara rahasia, dan mematuhi iman, serta warisan mereka, bahkan melalui makanan. 

Penggalian di Cartuja, sebuah bukit di pinggiran kota modern, telah mengungkapkan jejak aktivitas manusia sejak periode Neolitik (3400-3000 SM). 

 

Antara abad ketiga belas dan kelima belas, masa kejayaan Granada Islam, banyak rumah kecil dengan taman dan kebun buah-buahan dibangun di atas bukit ini. 

Dalam beberapa dekade setelah pemerintahan Katolik, sebuah biara dibangun. Daerah sekitarnya benar-benar berubah, dengan banyak bangunan sebelumnya dihancurkan.

Berdasarkan majalah The Conversation, para arkeolog menemukan sebuah sumur yang melekat pada sebuah rumah dan sebidang tanah pertanian. Akan tetapi sumur ini bukan untuk air, tetapi untuk fungsi lain guna melindungi identitas agama mereka yang sebenarnya. 

Penduduk Muslim menggunakan sumur sebagai tempat pembuangan sampah untuk membuang bahan yang tidak diinginkan, bersama dengan limbah lainnya, termasuk tulang hewan, yang berasal dari kuartal kedua abad keenam belas.

Dari sisa makanan dan endapan arkeologi, memberikan catatan tak ternilai tentang praktik kuliner orang-orang pada masa itu. Sisa itu kebanyakan fragmen tulang hewan serta sisa-sisa tumbuhan dan peralatan makan keramik.

Melalui tulang hewan khususnya, dapat diketahui pola makan yang dipatuhi umat Islam, seperti tidak makan daging babi.

Ternyata sebagian besar tulang di sumur adalah milik domba, dan beberapa ekor sapi. Ditemukan juga bahwa dagingnya berasal dari domba tua dan jantan. Mengingat jenis tulangnya, yang menunjukkan pemilihan bagian yang kaya akan daging.

Ini berarti bahwa makanan dibeli dari pasar oleh tukang daging profesional, bukan dibesarkan oleh keluarga.

Keramik yang ditemukan di samping tulang mencerminkan praktik makan Andalusia, yang melibatkan sekelompok orang yang berbagi makanan dari mangkuk besar.

Kehadiran mangkuk-mangkuk besar ini menurun dengan cepat di Granada pada awal abad ke-16. Digantikan oleh mangkuk-mangkuk kecil, yang mencerminkan pendekatan individualistis terhadap makanan yang disukai oleh keluarga Katolik.

Oleh karena itu, kombinasi piring besar, tulang domba berpasangan, dan tidak adanya tulang babi adalah bukti terbesar bahwa penghuni rumah ini adalah keluarga Moor. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement