Rabu 07 Jul 2021 05:55 WIB

Pakaian Penuh Darah Saat Sholat Titik Balik Imam Ghazali

Imam Al Ghazali menjalani praktik tasawuf melalui Syekh Al Utaqy

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Nashih Nashrullah
Imam Al Ghazali menjalani praktik tasawuf melalui Syekh Al Utaqy. Ilustrasi tasawuf
Foto: EPA/HOTLI SIMANJUNTAK
Imam Al Ghazali menjalani praktik tasawuf melalui Syekh Al Utaqy. Ilustrasi tasawuf

REPUBLIKA.CO.ID, — Sejak 1905, Imam Al Ghazali  meletakkan jabatan di Universitas Nizamiyah. Ia pun mengembara dari satu tempat ke tempat lain. Meski harus beranjak dari kekayaan, pangkat, popularitas, dan segala pernak-pernik duniawi, perjalanan itu ditempuhnya dengan penuh ketenteraman hati.

Sebelum momen penting itu terjadi dalam hidupnya, Al Ghazali  muda juga pernah bersinggungan dengan hikmah tasawuf. Kisahnya terekam dalam kitab Muid an-Ni'ami, dengan mengutip penuturan Imam Tajuddin As Subki.

Dikisahkan, suatu hari Imam al- Ghazali memimpin sholat di masjid. Masyarakat setempat memang biasa menjadikannya imam dalam sholat wajib yang diselenggarakan di sana. Apalagi, rumah Al Ghazali  tak jauh dari tempat ibadah itu.

Namun, adik Imam Al Ghazali  yang bernama Ahmad mulai menyisihkan diri begitu melihat kakaknya itu menjadi imam sholat. Ia lebih suka meneruskan sholat secara sendirian (munfarid) daripada harus ikut menjadi makmum di belakang Al Ghazali .

Orang-orang mulai membicarakan hal itu. Bahkan, lama kelamaan muncul rumor tidak sedap tentang hubungan antara Imam Al Ghazali  dan adik nya itu. Alhasil, sang imam pun merasa tidak nyaman. Ia menduga, Ahmad telah menganggap sholat yang dipimpinnya tidak sah.

Padahal, dirinya merasa sudah menjalankan setiap syarat dan rukun sholat secara sempurna. Suatu ketika, ia pun menceritakan kegundahan hatinya itu kepada ibunya.

Sang ibunda lantas berjanji akan menyuruh Ahmad untuk turut menjadi makmum manakala Al Ghazali  tampil sebagai imam shalat. Mendengar itu, ia pun bersuka cita karena orang tidak akan lagi menyebarkan desas-desus yang bukan-bukan.

Akhirnya, Ahmad bersedia untuk ikut sholat berjamaah di masjid yang diimami Al Ghazali. Orang-orang yang menyaksikannya sempat terkejut, tetapi kemudian tidak berkata apa-apa.

Bagaimanapun, di tengah sholat Ahmad justru membatalkan dirinya. Ia keluar dari shaf dan meneruskan shalat secara sendirian. Sesudah salam dan sholat selesai, beberapa jamaah pun mulai berbisik-bisik satu sama lain. Hati Al Ghazali kian gusar. Sesampainya di rumah, ia segera meminta penjelasan dari adiknya itu.

“Mengapa kamu membatalkan makmum kepadaku!? Apakah kamu menganggap shalat yang aku imami tidak sah?” tanya dia dengan nada tinggi.

“Aku melihat pakaianmu berlumuran darah,” jawab Ahmad.

Al Ghazali  tidak mengerti maksud perkataan adiknya itu. Ia melihat dengan jelas, gamis yang dikenakannya bersih, tak ada noda sedikitpun.

Ia pun beranjak ke kamarnya dan kemudian berupaya menenangkan perasaannya. Tiba-tiba, ia tersadar bahwa belakangan ini sebelum sholat dirinya sering membuka-buka kitab tentang hukum fikih.

Kebetulan, sesaat sebelum berangkat ke masjid tadi dirinya sempat membuka bab tentang bersuci (thaharah). Malahan, saat sedang mengimami sholat tadi pun pikirannya tebersit pada soal hukum darah haid.

Al Ghazali  segera keluar dari kamarnya dan menjumpai adiknya itu untuk meminta maaf. “Bagaimana mungkin kamu bisa mengatahui apa yang aku pikirkan tadi saat menjadi imam sholat?” tanya dia. 

Ahmad menjawab, A”ku berguru kepada seorang ulama yang tidak terkenal di pinggiran kota. Namanya, Syekh Al Utaqy. Dia orang alim, tetapi sehari-hari bekerja sebagai tukang sol sepatu di toko dekat pasar.”

Karena penasaran, Al Ghazali  pun pergi untu menemui orang alim tersebut. Sesampainya di bangunan perto koan pasar yang dimaksud, ia pun berhasil menemukan Syekh Al Utaqy.

“Izinkanlah aku untuk menjadi muridmu,” pintanya.

“Aku kira, kamu tidak akan sanggup mengikuti perintahku,” jawab Al Utaqy.

“Insya Alllah aku bisa melakukannya,” kata Al Ghazali  lagi.

Guru adiknya itu akhirnya menerimanya. Al Ghazali  lantas diperintahkan untuk membersihkan kotoran yang ada di lantai dengan tangannya.

Meskipun sempat merasa aneh, ia tetap mematuhi perintah sang ulama yang juga salik itu. Saat Al Ghazali  akan mengambil kotoran tersebut, Syekh Al Utaqy tiba-tiba mencegahnya, lalu menyuruhnya agar pulang.

Setibanya di rumah, Imam Al Ghazali semakin heran terhadap pelajaran pertama yang diajarkan syekh tersebut. Akan tetapi, ia akhirnya mendapatkan ilham tentang tindakan sang guru.

Sang sufi hendak mengisyaratkan agar dirinya membersihkan hati terlebih dahulu sebelum mengurus apa-apa yang tampak dalam pandangan mata.

Mulai saat itu, Imam Al Ghazali  terus berguru kepada Syekh Al Utaqy. Ia merasa terpanggil untuk menyelami lebih dalam ilmu tasawuf.    

sumber : Harian Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement