Selasa 06 Jul 2021 21:26 WIB

Prestasi Bangsa India yang Dikagumi Sarjana Muslim Al Biruni

Al Biruni mengagumi capaian bangsa India untuk peradaban mereka

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Nashih Nashrullah
Al Biruni mengagumi capaian bangsa India untuk peradaban mereka. Ilustrasi
Foto: Wordpress.com
Al Biruni mengagumi capaian bangsa India untuk peradaban mereka. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Hingga akhir hayatnya, Al Biruni merupakan seorang ilmuwan yang produktif menulis.

George Saliba dalam Dictionary of the Middle Ages (1980) menyatakan, ada 95 buku yang dapat dipastikan sebagai karya sarjana Muslim berkebangsaan Persia itu. Berbagai topik dibicarakannya dalam buku-buku buah tangannya itu. Salah satu fokus kajiannya adalah matematika.

Baca Juga

Saat berkesempatan menjelajahi India, ia menemukan bahwa masyarakat setempat memiliki tradisi ilmu pengetahuan yang luar biasa. Bahkan, peradaban India telah memiliki sistem bilangan tersendiri yang lebih praktis daripada, umpamanya, sistem angka Romawi. Pembicaraan tentang itu dijelaskannya dalam dua karyanya, Kitab al-Arqam dan Tazkira fii al-Hisab wa al-Madd bi al-Arqam al-Sind wa al-Hind

Ia menemukan bahwa bangsa India menggunakan cara berhitung yang disebut sebagai anka. Itu umumnya dipakai kaum Brahmana, sebagai golongan terpelajar dan kasta tertinggi di tengah penduduk lokal.

 

Mereka memiliki simbol-simbol tersendiri untuk menjelaskan makna 'satu' hingga 'sembilan'. Begitu pula dengan 'sepuluh', 'dua-puluh', 'tiga-puluh', dan seterusnya bilangan dengan kelipatan 10.

Sistem anka dinilai praktis karena mengandalkan urutan penulisan untuk menunjukkan makna bilangan tertentu. Sebagai contoh, untuk menyimbolkan makna 'dua ratus lima puluh enam', maka angka 200, 50, dan enam mesti diletakkan secara berurutan dari kiri ke kanan.

Penggunaan sistem bilangan itu dapat dijumpai, umpamanya, pada berbagai tugu batu yang didirikan di Sahasram pada zaman Raja Ashoka (meninggal 232 SM).

Dan, peradaban India pun termasuk yang paling awal kalau bukan yang terawal dalam menggunakan angka nol dalam sistem bilangan desimal. Sebelum Al Biruni, ada sarjana Muslim Muhammad bin Musa Al Khawarizmi (750-850) yang membicarakan kontribusi India untuk matematika itu.  

Menurut Gupta, ada satu hal menarik dari tulisan Al Biruni. Sebab, sarjana Muslim abad pertengahan itu juga menyebut naskah purana berjudul Brahmavaivarta dan Varaha. 

Padahal, keduanya dianggap para peneliti kesusastraan India sebagai komposisi yang muncul belakangan, yakni abad ke-16. Maka, kemunculan nama dua naskah tersebut masih menjadi tanda tanya bagi para peneliti kini. 

Tentunya, Al Biruni juga menjelaskan secara detil epos Mahabharata. Ia mengatakan, teks terse but terdiri atas 100 ribu sloka yang ke mudian terbagi lagi dalam 18 bagian (parva). 

Al Biruni memuji India sebagai sebuah negeri dengan peradaban yang tinggi. Pelbagai khazanah keilmuan dapat dijumpai di sana. Ilmuwan kelahiran Khwarezm (Uzbekistan) itu menjelaskan beberapa disiplin yang dikembangkan para terpelajar setempat. 

sumber : Harian Republika
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement