Sabtu 29 May 2021 08:00 WIB

Hikmah Sanksi dalam Alquran

Sanksi dalam Alquran jangan dipandang sebagai kekerasan.

Rep: Ali Yusuf/ Red: Muhammad Hafil
Hikmah Sanksi dalam Alquran. Foto: Alquran/Ilustrasi
Hikmah Sanksi dalam Alquran. Foto: Alquran/Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebagai mukjizat, Alquran sangat bijak dalam menerapkan sanksi-sanksi terhadap orang yang melanggar tatanan kehidupan sosial ke masyarakat. Sanksi Alquran dapat menimbulkan efek jera bagi para pelanggarnya.

"Jika orang yang berzina, maka dia terkena hukuman cambuk, dan yang membunuh di bunuh lagi," kata Ketua Umum Pengurus Besar Pemuda Al Irsyad Ustaz Fahmi Bahreisy Lc, Msi saat dimintai pendapatnya, belum lama ini.

Baca Juga

Kata dia, aturan yang bersifat sanksi dan hukuman ini jangan dipandang sebagai bentuk kekerasan bagi pelakunya, akan tetapi itu semua demi terciptanya tatanan masyarakat yang aman, sejahtera dan rukun. Maka itu terkait dengan hukuman bagi kasus pembunuhan, Allah SWT dalam Al-Baqarah ayat 179 berfirman.

"Dan dalam qisas itu ada jaminan kehidupan bagimu, wahai orang-orang yang berakal, agar kamu bertakwa."

Dalam kasus perzinahan, Allah telah membuat aturan di dalam Alquran bahwa cara terbaik untuk mencegah terjadinya perzinahan adalah membatasi hubungan antara laki-laki dan wanita yang bukan mahramnya. Mengatur cara berpakaian sekaligus memerintahkan orang-orang yang beriman, baik laki-laki ataupun wanita untuk saling menundukkan pandangannya.

Dalam surah Al-Isra ayat 32 Allah berfirman. "Janganlah kalian mendekati perzinahan, sesungguhnya ia adalah perbuatan yang keji dan jalan yang terburuk."

Maka segala bentuk perbuatan yang menjurus pada perbuatan zina, hal itu termasuk dalam perbuatan yang diharamkan. Jika ada yang mengabaikan hal tersebut hingga akhirnya ia jatuh pada perzinahan, Alquran surah An-Nur ayat 2 telah menyiapkan hukumannya.

"Orang yang berzina, wanita ataupun laki-laki, maka cambuklah keduanya dengan 100 kali cambukan." katanya.

 

Oleh karena itu, jika kita perhatikan dalam beberapa ayat Alquran dipergunakan redaksi "Wa laa taqrabuu", "wa in khiftum", "wal yakhsya" atau redaksi lainnya yang mengisyaratkan agar kita memiliki sikap waspada jangan sampai terjatuh pada tindakan kemunkaran.

Sebab, Allah kata Ustaz Fahmi, tidak ingin menjatuhkan kita pada kesulitan dan kesengsaraan.

Dengan demikian, jelaslah bahwa Alquran dengan segala aturan yang ada di dalamnya bukanlah diturunkan untuk mempersulit kehidupan kita, justru sebaliknya, ia memberikan metode dan solusi terbaik untuk meuwujudkan tatanan kehidupan sosial yang baik.

"Jika kita beriman, bertakwa dan taat pada seluruh perintah Allah, niscaya kehidupan masyarakat yang madani bukanlah sebuah mimpi, tapi akan menjadi sebuah kenyataan," katanya.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

"Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan." (Al-A'raf: 96)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement