Kamis 29 Apr 2021 15:50 WIB

Benarkah Makan Kenyang Dilarang Sama Sekali, Apa Batasannya?

Rasulullah SAW memberikan batasan makan jangan sampai kekenyangan

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Nashih Nashrullah
Rasulullah SAW memberikan batasan makan jangan sampai kekenyangan. Makanan cepat saji (ilustrasi).
Foto: www.freepik.com
Rasulullah SAW memberikan batasan makan jangan sampai kekenyangan. Makanan cepat saji (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Sebetulnya seberapa banyak porsi makanan agar perut kenyang yang sesuai sunnah Nabi  Muhammad SAW? Selama ini mungkin yang populer diketahui adalah Nabi Muhammad SAW mengajarkan agar saat seseorang makan maka harus berhenti sebelum kenyang.

 

Baca Juga

Abu Hurairah, sebetulnya pernah makan sampai kenyang di hadapan Nabi SAW. Bahkan para Sahabat Nabi Muhammad SAW yang lain pun sering berkali-kali makan sampai kenyang, karena itu, rasa kenyang setelah makan terkadang diperbolehkan. 

 

Namun, yang perlu menjadi catatan, kenyang yang dirasakan Abu Hurairah dan sahabat lain bukan keadaan yang biasa terjadi. Artinya, itu bukan kebiasaan mereka. 

 

Ibnu Hajar menjelaskan dengan menukil dari Al Qurthubi yang menyampaikan kisah dari Abu Al Haitsam. Suatu ketika, Nabi Muhammad SAW dan para sahabat menyembelih domba dan mereka makan sampai kenyang. Ini menjadi bukti bahwa memang makan sampai kenyang dibolehkan.

 

Meski begitu, yang dibenci adalah ketika rasa kenyang menyebabkan malas dan enggan berdiri untuk beribadah. Sifat dibenci ini bisa naik menjadi larangan berdasarkan kadar kerusakan yang ditimbulkan.

 

Ibnu Qayyim menjelaskan, kedudukan makanan itu ada tiga. Pertama, mengambil sebanyak yang diinginkan. Kedua adalah melewati batas cukup tetapi tidak mencapai tingkat kepuasan yang merugikan. Ketiga, yang lebih banyak dari itu. Singkatnya, menurut Ibnu Qayyim, tiga kedudukan makanan ialah keinginan, kecukupan, dan keutamaan.

 

Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Tirmidzi, dijelaskan bahwa Rasulullah SAW mengajarkan untuk mengisi perut dengan sepertiga makanan, sepertiga minuman, dan sepertiga lagi nafas. Inilah yang paling mendatangkan manfaat untuk tubuh dan hati.

 

Sebab, jika perut penuh dengan makanan, maka ruang untuk air pun menjadi sempit. Dan ketika ruang sempit itu diberi air, tubuh menjadi tertekan, bisa memicu stres, dan menyebabkan kelelahan karena membawa beban yang berat. Kondisi demikian bisa membuat hati rusak dan malas beraktivitas.

 

Dalam hadits Miqdam bin Ma'dikarib yang diriwayatkan Imam Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda: 

 

مَا مَلَأ آدَمِي وِعَاء شَرًّا مِنْ بَطْن، بِحَسْب اِبْن آدَم لُقَيْمَات يُقِمْنَ صُلْبه، فَإِنْ غَلَبَ الْآدَمِيّ نَفْسه فَثُلُث لِلطَّعَامِ، وَثُلُث لِلشَّرَابِ، وَثُلُث لِلنَّفَسِ

 

"Tiada tempat yang paling buruk yang dipenuhi oleh manusia daripada perutnya. Cukup bagi anak Adam beberapa suap saja untuk menegakkan tulang belakangnya. Jika tidak, maka sepertiga (dari perutnya) untuk makanannya, sepertiga lagi untuk air, minumannya dan sepertiga lagi untuk nafasnya."

 

Kata 'sepertiga' yang diucap beberapa kali dalam hadits tersebut, bisa dipahami sebagai takaran atau porsi yang sebetulnya sudah banyak dan maksimal saat makan.

 

 

Sumber: islamweb 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement