Jumat 26 Feb 2021 15:32 WIB

Alasan Mengapa Nabi Selain Muhammad SAW tak Beri Syafaat

Nabi terdahulu selain Nabi Muhammad SAW tak bisa berikan syafaat

Rep: Imas Damayanti/ Red: Nashih Nashrullah
Nabi terdahulu selain Nabi Muhammad SAW tak bisa berikan syafaat. Rasulullah SAW (ilustrasi)
Foto:

Lebih lanjut beliau menjelaskan, akhirnya hanya Rasulullah sajalah yang dapat memberikan syafaat kepada umatnya. Nabi berkata: “Ana laha, ana laha,”. Yang artinya: “Aku untuk dia, aku untuk dia,”. Yang dimaksud dengan kata ‘dia’ adalah mereka yang berhak mendapatkan syafaat beliau. Maka Allah berkata kepada Nabi: “Isyfa tusayaffa,”. Yang artinya: “Berikanlah syafaat (kepada dia) maka (dia) akan diberikan syafaat,”.

“Siapa itu? Ya orang yang sering membaca shalawat kepada Nabi. Bershalawat itu bentuk rasa syukur kita, kita dipertemukan dengan Alquran, kita dipertemukan dengan teladan Nabi Muhammad SAW,” Kiai Ahsin.

Keistimewaan Nabi Muhammad yang menjadi satu-satunya Nabi yang dapat memberikan syafaat, kata beliau, tak lepas dari keluhuran akhlak dan perjuangan dakwahnya yang tuntas. Sebab jika dibandingkan dengan Nabi-Nabi sebelumnya, dakwah Rasulullah SAW sangatlah sempurna meski beliau diturunkan di tengah lingkungan masyarakat jahiliyah.

Sementara jika menelisik perjalanan dakwah para Nabi-Nabi terdahulu, maka perbandingan perjalanan dakwah Nabi Muhammad jelas jauh lebih tinggi. Misalnya, KH Ahsin menjabarkan, Nabi Adam tak bisa memberikan syafaat karena beliau merasa bahwa akibat kesalahannya melanggar perintah Allah di surga lah maka manusia diturunkan ke muka bumi.

Selanjutnya pada Nabi Nuh AS, kata beliau, setelah berdakwah selama 950 tahun, Nabi Nuh hanya mampu mengajak sekitar 80-an orang saja yang mempercayai risalahnya. Begitu pun dengan Nabi Musa AS yang pada akhirnya didurhakai oleh umat Yahudi yang dibelanya. Adapun dengan Nabi Isa, menurut beliau, pun tidak begitu sempurna perjalanan dakwahnya sebab nyaris saja terbunuh.

 

Adapun Rasulullah SAW menjalani sejumlah rintangan dakwah yang tak mudah, namun demikian KH Ahsin berpendapat bahwa rintangan tersebut mampu dilalui dan dengan baiknya Nabi berhasil menancapkan nilai luhur akhlak. Istimewanya, nilai-nilai dari ajaran Islam mengenai akhlak itu berlaku untuk seluruh umat manusia hingga akhir zaman.   

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement