Senin 22 Feb 2021 18:11 WIB

Ulama Klasik yang Menolak Jabatan di Pemerintahan 

Terdapat sejumlah ulama klasik yang menolak jabatan di pemerintahan

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Nashih Nashrullah
Terdapat sejumlah ulama klasik yang menolak jabatan di pemerintahan. Ilustrasi hakim pemerintah
Foto: Rakhmawaty La'lang/Republika
Terdapat sejumlah ulama klasik yang menolak jabatan di pemerintahan. Ilustrasi hakim pemerintah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA –  Pada masa Kekhalifahan Islam, hakim menjadi jabatan di pemerintahan yang bergengsi karena begitu pentingnya perannya dalam menyelesaikan perselisihan dan menangani urusan umat Islam. 

Bahkan, orang yang menjabat sebagai hakim, akan mendapat kekebalan dan kebebasan dari otoritas politik saat itu. Hal ini karena, penguasa yang menunjuk seseorang untuk menjadi hakim tentu menginginkan suatu pilihan yang baik untuk dirinya. Kondisi inilah yang menjadikan hakim memiliki otoritas yang berparalel dengan otoritas politik. 

Baca Juga

Saat itu muncul istilah, "Tidak kehormatan di dunia setelah kekhalifahan kecuali peradilan." Nabi Muhammad SAW juga pernah bersabda: 

مامن أحد أقرب مجلساً من الله يوم القيامة ، بعد ملك مصطفى ، ونبي مرسل  من إمام عدل "Tidak ada orang yang lebih dekat dengan Allah SWT pada Hari Kebangkitan kelak setelah raja terpilih dan nabi, kecuali pemimpin yang adil." 

Untuk menjadi seorang hakim, dibutuhkan ilmu dan ketakwaan. Hal ini sebagaimana perkataan Malik bin Anas. Karena itulah, para ahli fiqih, yang termasuk orang-orang beriman dan berilmu, sering menolak jabatan hakim peradilan. Sebab mereka khawatir apa yang diputuskannya tidak mampu memperbaiki berbagai urusan sesuai ketentuan syariat. 

Penolakan mereka juga karena demi menghindari risiko jatuh ke dalam kesalahan saat mengeluarkan putusan. Berikut ini adalah beberapa orang berilmu dan saleh yang menolak menjadi hakim.

1. Imam Abu Hanifah 

Imam Abu Hanifah menolak jabatan hakim saat diminta untuk mengambil alih peradilan. Akibatnya dia pun harus menerima hukuman 10 cambukan setiap hari selama berhari-hari. 

Seorang ahli fiqih bernama Abdullah bin Farukh al-Farisi pernah bertanya kepada Imam Abu Hanifah soal mengapa tidak ingin menjadi hakim. Lalu dijawab Abu Hanifah, "Farukh, hakim itu ada tiga. Pertama, orang yang bisa berenang dengan baik maka akan berada di laut dalam waktu yang lama. Lambat-laun dia akan kelelahan dan tenggelam.

Kedua, orang yang hanya bisa berenang maka setahun kemudian dia akan tenggelam. Ketiga, orang yang tidak bisa berenang, menceburkan dirinya ke dalam air, lalu dia pun segera tenggelam.”

2. Qasim bin Tsabit bin Abdul Aziz al-Fihri

Nama kedua berasal dari Zaragoza di Andalusia. Dia diminta negaranya untuk menjadi hakim tetapi menolak. Ketika dipaksa pemimpin negeri, dia pun meminta waktu selama tiga hari untuk mempertimbangkannya sekaligus meminta petunjuk kepada Allah SWT. Dalam rentang waktu tiga hari inilah, Abdul Aziz al-Fihri wafat.

3. Abu Qilabah

Semasa hidupnya, sahabat Nabi Muhammad SAW tersebut, pernah diminta menjadi hakim di masa kekhalifahan, namun beliau menolak dan memilih pergi ke Mesir. 

Sumber: saaid 

 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement