Rabu 21 Oct 2020 21:59 WIB

Baptis Massal Muslim Saat Jatuhnya Islam di Granada Spanyol?

Muslim di Granada mengalami tekanan saat kekuasaan Islam jatuh.

Muslim di Granada mengalami tekanan saat kekuasaan Islam jatuh.
Foto: timesofisrael.com
Muslim di Granada mengalami tekanan saat kekuasaan Islam jatuh.

REPUBLIKA.CO.ID, Kejatuhan Granada menjadi titik balik perburuan Muslim di berbagai bagian dunia. Mereka disebut “Moors” dan dianggap sebagai penghalang bagi misi Kristen.

Joseph F O’Callaghan, dalam bukunya, A History of Me dieval Spain, (London: Cor nell University Press, 1975), menulis, setelah kejatuhan Granada, 30 Maret 1492, kaum Muslim Spanyol dibaptis secara paksa.

Baca Juga

Cisneros, seorang uskup di Gra nada, pada 1499 memerintahkan pembakaran Alquran dan memaksa sekitar 50 ribu Muslim untuk masuk Kristen. Pada 11 Februari 1502, Raja Ferdinan dan Ratu Isabella mengeluarkan sebuah keputusan (edict) yang menginstruksikan seluruh Muslim untuk masuk Kristen atau meninggalkan Spanyol. Sebagian besar Muslim terpaksa menjadi Kristen (moriscos). Puncak pengusiran Muslim terjadi pada abad ke-17.

Sementara itu, Alfonso D’Albuquerque menaklukkan Malaka pada 1511 dengan semboyan ‘Military Crusading Order of Christ’. (IJ Maureen K C Chew, dalam The Journey of the Catholic Church in Malaysia (1511-1996), Kuala Lumpur: Catholic Research Center, 2000).

Sesaat setelah mendarat di Ambon, Maluku, 1546, St Francis Xavier (Fransiskus Xaverius) menulis surat kepada seorang temannya di Goa, menggambarkan kondisi Muslim di sana.

Menurut Fransiskus Xaverius, kaum Muslim tidak tahu tentang agama mereka. Ia menyebut ‘Islam’ sebagai “sekte jahat Muhammad”. Fransiskus optimistis jika dikirimkan misi ke Maluku maka kaum Muslim akan bisa dihancurkan dalam waktu singkat.

(The best thing about these Moors is that they know nothing about their erroneous sect. For want of one to preach the truth to them, these Moors have not become Chris tians… If a dozen of them came each year, this evil sect of Mohammed would be destroyed in a short time. All would become Christians, and God our Lord would thus not be so much offended as he is now, since there is no one to reproach them from their vices and sins of infidelity. (Adolf Heuken SJ, “Be my Witness to the Ends of the Earth!”: The Catholic Church in Indonesia before the 19th Century, Jakarta: Cipta Loka Caraka, 2002).

*Naskah ini merupakan bagian dari artikel karya Dr Adian Husaini yang terbit di Harian Republika.

 

sumber : Harian Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement