Sabtu 20 Jun 2020 05:21 WIB

Perintah Allah pada Musa di Bulan Dzulqadah

Nabi Musa beserta kaumnya diperintahkan puasa selama 30 hari di bulan Dzulqadah.

Rep: Zainur Mahsir Ramadhan/ Red: Ani Nursalikah
Perintah Allah pada Musa di Bulan Dzulqadah.
Perintah Allah pada Musa di Bulan Dzulqadah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam surat Al-Araf ayat 142 dijelaskan, sebelum mendapat wahyu dan berbicara pada Allah SWT, Nabi Musa beserta kaumnya diperintahkan untuk ibadah puasa selama 30 hari di bulan Dzulqadah. Perintah tersebut turun setelah Bani Israil diselamatkan dari kekejaman Fir’aun dan kaumnya.

Dalam Ath-Thabari, tafsir Jami Al-Bayan Fi Ahkam Al-Quran, dijelaskan mengenai surat Al-Araf ayat 142 yang berbunyi, ‘Dan telah kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu tiga puluh malam, ‘yaitu bulan Dzulqa’dah’. ‘Dan kami sempurnakan ibadah itu dalam sepuluh malam lagi. ‘Yaitu dalam sepuluh malam Dzulhijjah.

Baca Juga

Kemudian Allah berfirman, ‘Maka sempurnalah waktu yang ditentukan Tuhannya empat puluh malam. ‘Agar ia pergunakan waktu ini untuk bersiap-siap bertemu dan bermunajat kepada Tuhannya.’

Mengutip buku Menggapai Berkah di Bulan-Bulan Hijriah karangan Siti Zamratus, janji berbicara dengan Nabi Musa dengan didahului perintah Allah menyoal puasa itu, adalah untuk mempersiapkan diri memasuki keadaan istimewa di malam-malam tersebut.

 

Puasa 30 hari dan ditambah 10 hari yang diperintahkan pada Nabi Musa dan kaumnya adalah untuk menghindari kesibukan duniawi dan menghabiskan waktu untuk bertafakur dan memperbaiki diri.

Disebutkan para ulama, perintah awal puasa selama 30 hari pada Nabi Musa memang waktu persiapan. Namun, ketika melaksanakan ibadah puasa tersebut Nabi Musa tidak tahan dengan bau yang keluar dari mulutnya akibat berpuasa. Sehingga ia memutuskan bersiwak untuk menghilangkan baunya.

Melihat itu, Malaikat berkata, ‘Sesungguhnya kami telah menghirup wangi misik ketika engkau berpuasa, akan tetapi engkau menghilangkannya dengan bersiwak.’ Atas dasar itu, Allah menambah 10 hari lagi untuk beribadah padanya di bulan Dzulhijjah.

Sebagian riwayat menyebut, Allah juga memberikan wahyu pada Nabi Musa sesaat ia bersiwak, ‘Wahai Musa Aku tidak akan berbicara padamu sampai bau mulutmu kembali seperti semula. Tahukah kamu, bau mulutnya orang yang berpuasa lebih Aku sukai dari pada wangi minyak misik?’. Atas dasar tersebut, Nabi Muhammad juga bersabda bahwa ‘Bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi daripada wangi minyak misik.’

Lebih jauh, sebagaimana riwayat Lais dari Mujahir ra, tulis As-Sirbuny, 30 hari yang disebutkan Allah itu adalah bulan Dzulqadah. Hingga akhirnya setelah perintah itu diselesaikan Nabi Musa, turun surat Al-Araf ayat 145 yang menyebut, ‘Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman): "Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik.

Mengenai waktu tepatnya Nabi Musa berbicara pada Allah SWT, sebagian besar ulama percaya, itu terjadi di siang hari di Hari Raya Idul Adha.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement