Jumat 29 May 2020 06:26 WIB

Mulianya Para Pemaaf

Allah yang menyandang sifat 'Afuw menghapus kesalahan hamba-hamba Nya.

Jamaah saling bermaafan usai Shalat Iedul Fitri 1441 H di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta, Ahad (24/5). Imbas wabah Covid19 Shalat Iedul Fitri  diadakan di Masjid Jogokariyan dari sebelumnya di lapangan
Foto: Wihdan Hidayat/ Republika
Jamaah saling bermaafan usai Shalat Iedul Fitri 1441 H di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta, Ahad (24/5). Imbas wabah Covid19 Shalat Iedul Fitri diadakan di Masjid Jogokariyan dari sebelumnya di lapangan

REPUBLIKA.CO.ID,  Maaf menjadi salah satu sifat terbaik yang pernah dimiliki manusia. Sikap ini pernah ditunjukkan oleh Asma Mohamad Jama, seorang Muslimah Amerika Serikat (AS) yang dipukul dengan gelas bir oleh seorang perempuan kulit putih. Jodie Burchard Risch melakukan itu hanya karena Asma berkomunikasi dengan bahasa Swahili di sebuah restoran beberapa waktu lalu.

Di Pengadilan Minnesota, Asma memberi maaf kepada Jodie Burchard Risch. Perempuan berhijab itu mengungkapkan, maaf merupakan sesuatu yang diajarkan agama. “Di hadapan semua orang, saya memaafkan kamu. Pilihlah cinta daripada benci karena kebencian akan ‘memakanmu’,”ujar Asma.

Guru madrasah di Amerika Serikat, Sombat Jitmoud, juga menunjukkan sikap serupa kepada salah satu kawanan pembunuh anaknya, Shalahuddin, Trey Relford. Sombat bahkan merasa kasihan kepada Relford karena harus menghabiskan masa depannya di dalam penjara. Peristiwa Sombat yang memeluk Relford membuat haru suasana pengadilan. Hakim dan keluarga pembunuh ikut menangis karena ketulusan Sombat. 

Maaf merupakan fitrah manusia yang amat dianjurkan dalam Islam. Meski ada hukum yang ketat di dalam syariah, maaf menjadi penyelesaian akhir yang dianjurkan Allah SWT. Maaf merupakan satu rahmat Allah yang bisa dinikmati manusia. 

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka, barang siapa yang mendapatkan suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barang siapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.” (QS al-Baqarah:178).

Maha Pemberi Maaf

Al-‘Afuw merupakan salah satu sifat Allah SWT yang melekat pada-Nya. Dalam Tafsir Al Misbah, Prof Quraish Shihab menjelaskan, jika ditilik dari segi bahasa, al-‘Afuw bermakna dua hal, yaitu meninggalkan sesuatu dan memintanya. Dari sini, lahir kata 'afuw yang berarti meninggalkan sanksi terhadap yang bersalah (memaafkan). Dalam beberapa kamus bahasa, pada dasarnya kata 'afw berarti menghapus, membinasakan dan mencabut akar sesuatu.

Menurut Quraish, pemaafan Allah tidak hanya tertuju bagi mereka yang bersalah dengan tidak sengaja atau melakukan kesalahan karena tidak tahu. Maaf Allah juga tidak selalu menunggu yang bersalah untuk meminta maaf.  Allah telah memaafkan banyak hal. Bukan hanya Rasulullah SAW yang dimaafkan sebelum beliau meminta maaf.

"Jika Dia menghendaki, Dia akan menenangkan angin, maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaan laut. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan)-Nya bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur, atau kapal-kapal itu dibinasakan-Nya karena perbuatan mereka atau Dia ya'fu (memberi maaf) banyak (dari dosa mereka)." (QS as-Syura: 33-34).

Allah yang menyandang sifat 'Afuw menghapus kesalahan hamba-hamba Nya dan memaafkan pelanggaran mereka. Sifat ini mirip dengan al-Ghafur, hanya saja menurut Imam al-Ghazali, pemaafan Allah lebih tinggi nilainya dari maghfirah. Maghfirah yang berarti menutup pada hakikatnya memiliki wujud hanya tidak terlihat. Tentu maknanya berbeda dengan kata 'afuw yang berarti menghapus.

Sifat Pemaaf Allah SWT pun tampak dari mekanisme penghitungan yang diterapkan saat menimbang amal manusia. Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian menjalankan agamanya dengan baik maka setiap kebaikan yang ia lakukan dicatat 10 kali lipat, hingga 700 kali lipat, dan setiap amal keburukan yang dilakukan hanya dicatat semisalnya (dihitung satu)” (Bukhari-Muslim). 

Momentum lebaran

Islam tidak menerapkan satu momentum khusus untuk memberi atau meminta maaf. Lebih cepat sikap itu ditunjukkan maka akan lebih baik. Meski demikian, ada tradisi di dalam masyarakat kita untuk saling bermaafan pada Hari Raya Idul Fitri. Ucapan mohon maaf lahir dan batin pun kita sampaikan meski pada situasi wabah korona seperti ini lewat telepon, panggilan video, atau media sosial. 

Tradisi saling bermaafan pun amat dibutuhkan pada situasi sulit seperti sekarang ini. Sikap pemaaf bisa menjadi  langkah awal untuk bangkit dari pandemi. Sesuai dari makna ‘menghapus’, kita bisa mulai dari titik nol untuk berekonsiliasi dengan segenap elemen untuk kembali membangun bangsa. Wallahu'alam.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement