Selasa 31 Mar 2020 23:18 WIB

Rute Dagang Pebisnis Muslim dari Eropa Hingga Laut China

Para pedagang Muslim berdagang hingga ke Laut China.

Para pedagang Muslim berdagang hingga ke Laut China. (ilustrasi) peta yang menggambarkan luas wilayah Islam pasca-wafatnya Nabi SAW
Foto: tangkapan layar wikipedia.org
Para pedagang Muslim berdagang hingga ke Laut China. (ilustrasi) peta yang menggambarkan luas wilayah Islam pasca-wafatnya Nabi SAW

REPUBLIKA.CO.ID, Para pedagang Muslim kemudian menjelma menjadi sebuah komunitas perdagangan yang aktif. Seiring perkembangan dan kekuasaan Islam, kegiatan dagang Muslim kian maju pula. Ini terjadi saat kekuasaan Islam membentang dari Turkestan hingga Samudera Atlantik.

Kekuasaan Islam juga meliputi tiga perempat Laut Mediterania, termasuk Andalusia yang kini dikenal dengan sebutan Spanyol. Pengaruh Islam yang besar ini menghubungkan kegiatan politik dan ekonomi antara Mediterania dan Samudra Hindia.

Baca Juga

Maka, kafilah dagang yang bergerak antara Samudra Hinda dan Laut Mediterania singgah pula di Semenanjung Arabia untuk melakukan perdagangan. Pedagang Muslim pun terhubung dengan para pedagang dari India, Malaya, dan Indonesia.

Kian luasnya jejaring perdagangan ini membuat pedagang Muslim menjadi penghubung antara Barat, baik melalui Mediterania atau Baltik maupun Timur Jauh. Mereka membawa bahan pembuat gula dari India dan juga membawa kapas ke Sisilia dan Afrika serta beras ke Sisilia dan Spanyol.

Dari Cina, pedagang Muslim belajar bagaimana membuat sutra dan kertas, termasuk penggunaan kompas dan angka dari India. Di mana pun berada, mereka selalu mampu menggerakkan kehidupan bisnis dan meningkatkan nilai tukar barang.

Keuntungan dari kegiatan dagang tersebut menjadi sumber penghasilan penting, baik para pedagang Muslim itu sendiri maupun pemerintah Islam saat itu. Pada awal Abad Pertengahan, Pax Islamica menjadi dasar bagi masa emas perekonomian.

Saat itu, kegiatan ekonomi dan perdagangan melibatkan pedagang Arab, Persia, Berber, Yahudi, dan Armenia. Para pedagang melakukan kegiatan perdagangan dari Gibraltar atau Jabal Tariq hingga ke Laut Cina. Saat itu, orang-orang Eropa masih terbatas geraknya.

Mereka hanya mampu melakukan perjalanan dan perdagangan sepanjang Adriatik, wilayah selatan Italia, dan di antara pulau-pulau yang ada di Kepulauan Yunani. Beberapa abad kemudian, warga Italia baru bisa mencapai Mediterania.

Dengan maraknya kegiatan perdagangan itu, umat Islam dahulu mampu menggerakkan perekonomian dan pengumpulan modal melalui aktivitas ekonomi dibandingkan Eropa. Sebab, pertanian dan perdagangan telah lebih dulu mengalami kemajuan pesat di dunia Islam.

Meski perekonomian dan perdagangan tak secara signifikan mengubah struktur masyarakat Islam, aktivitas itu diakui telah memberikan dampak bagi terjadinya akumulasi modal. Tentu saja, pertumbuhan ekonomi di berbagai wilayah kekuasaan Islam.

Sejumlah kota menjadi pusat ekonomi dan dagang. Pada abad-abad awal, Baghdad menjadi salah satu pusat kedua kegiatan itu. Bahkan, aktivitas ekonomi di kota tersebut memberikan pengaruh besar bagi kota-kota lainnya.

Saat mencapai abad ke-10, pusat kegiatan perdagangan mulai beralih, yaitu dari Irak dan Teluk Persia ke Laut Merah, Mesir, dan pelabuhan-pelabuhan di Semenanjung Arabia. Akhirnya, Kairo menggantikan Baghdad sebagai pusat aktivitas perekonomian.

Peralihan ini beriringan dengan semakin kuatnya kekuasaan Dinasti Fatimiyah di wilayah Mediterania, khususnya di Sisilia, Tunisia, dan Suriah. Persentuhan Mesir dengan Eropa diwakili para pedagang dari keluarga Karimi yang muncul pada abad ke-11.

Dengan kepandaiannya dalam berdagang, keluarga Karimi ini kemudian meraih kemakmuran dan sangat berpengaruh di semua pasar di wilayah timur. Secara politik, mereka juga berpengaruh. Mereka juga berpengaruh dalam perdagangan dengan Eropa.

Pada abad ke-12, Karimi dan kaum Frank mendominasi aktivitas perdagangan di timur dan barat. Mereka menggantikan posisi pedagang Yahudi dan Kristen. Lalu, berdirilah banyak funduqs atau pusat perdagangan yang didirikan keluarga Karimi.

Pusat perdagangan itu didirikan di rute perdagangan utama dari Samudra Hindia hingga Mediterania, khususnya di Kairo, Alexandria, dan Qus di Mesir; juga di Aden, Ta'iz, Zabid, Ghalafiqua, dan Bir ar-Rubahiyya di Yaman.

Tak hanya itu, pusat perdagangan itu juga ada di Makkah, Madinah, dan Jeddah di Arab Saudi. Di sisi lain, Karimi menggunakan rute dagang lewat laut melalui Laut Merah dan Samudra Hindia hingga Cina. Jalur darat juga ditempuh, yaitu dari Mesir, melalui Suriah, Irak, dan Iran.   

 

sumber : Harian Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement