Rabu 18 Mar 2020 12:00 WIB

Mujahid, Ulama, dan Dermawan yang Gagal Masuk Surga 

Mujahid, ulama, dan dermawan gagal masuk surga karena raibnya sikap ikhlas.

Mujahid,ulama, dan dermawan gagal masuk surga karena raibnya sikap ikhlas. Beribadah (ilustrasi)
Foto: Antara
Mujahid,ulama, dan dermawan gagal masuk surga karena raibnya sikap ikhlas. Beribadah (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Tiga orang menanti sidang dengan kepercayan diri yang sangat besar. Ketiganya yakin betul akan diputuskan menjadi penghuni surga. Namun, pengadilan Allah jauh berbeda dengan pengadilan manusia. Allah Mahatahu segala hal meski ukurannya sebesar zarah. Allah pun memiliki sifat Mahaadil yang memutuskan setiap perkara tanpa zalim.

Tiga orang yang merasa menjadi calon penghuni surga ini pun tergelak. Mereka yang terdiri atas orang-orang saleh itu justru berakhir di neraka. Mereka diseret dengan kasar ke dalam api yang membara. Apa gerangan yang terjadi? Rupanya mereka hanyalah saleh di pandangan manusia, tetapi tak mentauhidkan Allah dalam niat amal mereka.

Orang pertama dipanggil menghadap Allah. Ia merupakan seorang pria yang mati syahid. Si pria mengakui banyaknya nikmat yang diberikan Allah padanya. Allah pun bertanya, "Apa yang telah kau perbuat dengan berbagai nikmat itu?"

Mujahid itu menjawab, "Saya telah berperang karena-Mu sehingga saya mati syahid," ujarnya.

Allah pun menyangkalnya, "Kau telah berdusta. Kau berperang agar namamu disebut manusia sebagai orang yang pemberani. Ternyata kamu telah disebut-sebut demikian," firman-Nya. Mujahid itu pun diseret wajahnya dan dilempar ke jahanam.

Orang kedua pun dipanggil. Ia merupakan seorang alim ulama yang mengajarkan Alquran pada manusia. Seperti orang pertama, Allah bertanya hal yang sama, "Apa yang telah engkau perbuat dengan berbagai nikmat itu?"

Sang ulama menjawab, "Saya telah membaca, mempelajari, dan mengajarkan Alquran karena Engkau," ujarnya.

Namun, Allah berfirman, "Kamu berdusta. Kau mempelajari ilmu agar disebut sebagai seorang alim dan kau membaca Alquran agar kamu disebut sebagai seorang qari." Allah mengadilinya. Sang alim ulama pun menyusul si mujahid, masuk ke neraka yang apinya menjilat-jilat.

Orang ketiga pun dipanggil. Kali ini orang yang dipanggil merupakan seorang yang sangat dermawan. Sang dermawan dianugerahi Allah harta yang melimpah. Allah pun menanyakan tangung jawabnya atas nikmat itu, "Apa yang telah engkau perbuat dengan berbagai nikmat-Ku?" firman-Nya.

Sang dermawan menjawab, "Saya tidak pernah meninggalkan sedekah dan infak di jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau," jawabnya.

Dia pun tak jauh beda dengan dua orang sebelumnya. "Kau berdusta," firman Allah. "Kau melakukannya karena ingin disebut sebagai seorang dermawan. Begitulah yang dikatakan orang-orang tentang dirimu," firman-Nya.

Sang dermawan yang riya ini pun diseret dan dilempar ke neraka, bergabung dengan dua temannya yang juga menyimpan sifat riya di hati.

Di mata manusia, ketiganya merupakan seorang yang taat beribadah dan diyakini akan menjadi penduduk surga. Namun, hanya Allah yang mengetahui segala isi hati hamba-Nya. Ketiganya tak pernah mengikhlaskan amalan untuk Allah, melainkan agar diakui manusia. Mereka pun berakhir di neraka dan menjadi penghuni pertama neraka.

Kisah pengadilan akhirat tersebut terdapat dalam hadis Rasulullah dari Abu Hurairah. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim, an-Nasa'i, Imam Ahmad, dan Baihaqy. Kisah yang sama dalam teks hadis yang berbeda juga diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan al-Hakim.

Di akhir hadis, Abu Hurairah bahkan membaca firman Allah yang menjadi hikmah pelajaran atas kisah tersebut. "Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan," Quran surah Hud ayat 15-16.

 

sumber : Harian Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement