Rabu 17 Aug 2022 14:06 WIB

Pandangan Islam tentang Pribadi yang Merdeka

Islam datang agar manusia menjadi makhluk yang merdeka.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Muhammad Hafil
 Pandangan Islam tentang Pribadi yang Merdeka. Foto:  Upacara bendera hari kemerdekaan RI (ilustrasi)
Foto: BNPT
Pandangan Islam tentang Pribadi yang Merdeka. Foto: Upacara bendera hari kemerdekaan RI (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Islam datang agar setiap orang menjadi manusia seutuhnya dalam segala dimensi dan arah. Karena itu, Islam menaruh perhatian yang besar pada bagaimana setiap Muslim menjadi pribadi yang merdeka, sehingga umat Muslim dapat terus berkembang.

Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah tentang membaca, yakni ayat pertama Surah Al-Alaq.

Baca Juga

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS Al-Alaq ayat 1-5)

Membaca adalah kunci pengetahuan, dan pengetahuan adalah buah dari ilmu. Dengan ilmu, pengetahuan, dan kearifan, maka kepribadian seorang Muslim pun terbentuk, termasuk sifat-sifatnya. Tujuan hidupnya juga semakin dalam.

Setelah Islam memberikan kunci ilmu kepada manusia, yaitu membaca, maka seorang Muslim terdorong untuk menuju pengetahuan dengan membangkitkan indra penglihatannya, mengingatkan hati nuraninya agar senantiasa waspada, dan menggerakkan pikirannya untuk bertadabbur (berkontemplasi).

Dari tahap membaca, pengetahuan, dan tadabbur, lalu beralih ke tahap adil. Dengan begitu, seseorang memiliki pemikiran yang bijaksana dan objektif. Jalan pikirannya adalah terobosan, bukan peniruan dari garis keturunannya atau orang lain.

Allah SWT berfirman, "...Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata:  "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami". Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (QS Ali Imran ayat 7)

Dari ilmu yang otentik, visi yang luas, dan objektivitas, maka terbentuk kepribadian yang siap untuk mencapai kebenaran dan terus berjalan menuju kebenaran. Karena ilmu pengetahuan ibarat pemimpin yang menuntun, sedangkan sikap adil atau objektif adalah pedoman dalam mengakses ilmu.

Tanpa tiga dasar tersebut, yakni ilmu, visi dan objektivitas, tidak ada kebenaran. Islam meniscayakan adanya kebebasan dalam melakukan riset, berpikir, dan bervisi.

Sumber:

 https://www.alukah.net/culture/0/4667/%D8%A7%D9%84%D8%A5%D8%B3%D9%84%D8%A7%D9%85-%D9%88%D8%A7%D9%84%D8%B4%D8%AE%D8%B5%D9%8A%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D8%A7%D8%B3%D8%AA%D9%82%D9%84%D8%A7%D9%84%D9%8A%D8%A9/

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement