Jumat 08 Jul 2022 20:19 WIB

Keturunan Rasulullah SAW yang Tak Pernah Banggakan dan Andalkan Nasab

Imam Ali Zainal Abidin dikenal sebagai sosok yang zuhud dan dicintai umat

Ilustrasi Rasulullah SAW. Imam Ali Zainal Abidin dikenal sebagai sosok yang zuhud dan dicintai umat
Foto: Republika/Mardiah
Ilustrasi Rasulullah SAW. Imam Ali Zainal Abidin dikenal sebagai sosok yang zuhud dan dicintai umat

Oleh : Ustadz Yendri Junaidi Lc MA, dosen STIT Diniyyah Puteri Padang Panjang, alumni Al-Azhar Mesir

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Beliau adalah Imam Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib alaihissalam. Cucu Rasulullah SAW yang dijuluki Zainal Abidin (permata ahli ibadah).

Tentu saja julukan ini tidak sekadar basa-basi atau pujian melebihi kenyataan seperti kebanyakan julukan yang disematkan pada sebagian orang hari ini. Imam Darul Hijrah Malik bin Anas ra berkata: “Setiap hari ia (Imam Zainal Abidin) sholat beratus-ratus rakaat hingga wafatnya.”

Baca Juga

Seorang tokoh salaf yang bernama Juwairah bin Asma` pernah berkata sebagai berikut: 

ما أكل علي بن الحسين بقرابته من رسول الله صلى الله عليه وسلم درهما قط  “Tidak pernah satu dirham pun Ali bin Husein makan karena kekerabatannya dengan Rasulullah SAW.”   

Pesan untuk kita dan mereka-mereka yang suka membanggakan diri sebagai keturunan wali fulan, generasi syekh ‘allan, murid kiai fulan, penerus buya ‘allan, lalu menjadikan itu sebagai alat untuk menangguk materi.   

Baktinya pada sang ibu sungguh menakjubkan. Pernah seseorang berkata padanya: “Engkau orang yang sangat berbakti pada ibumu. Tapi kami tak pernah melihat engkau makan bersama ibumu dalam satu nampan.” Beliau menjawab, “Aku khawatir kalau-kalau tanganku menyentuh makanan yang sudah diliriknya. Dengan begitu berarti aku durhaka padanya.”   

Selama hidup, dia dikenal sebagai seorang yang bakhil, karena ia tak pernah terlihat bersedekah dan berderma. Tapi dia tak berusaha untuk membantah anggapan itu atau memperbaiki citra diri.

Bukan Zainal Abidin seorang cucu Nabi yang akan melakukan itu. Sosok seperti beliau tidak akan peduli apapun penilaian manusia. Justru itu akan menjaga kerahasiaan dan kemurnian amalnya. 

Imam Muhammad bin Ishaq dan Jarir bin Mughirah menceritakan, “Ratusan rumah di Madinah hidup dengan baik tanpa tahu siapa orang yang mengantarkan makanan setiap malam ke depan pintu rumah mereka. Ketika Imam Ali Zainal Abidin wafat, mereka tidak lagi mendapatkan subsidi itu. Barulah mereka sadar bahwa sosok yang selama ini membantu mereka secara diam-diam adalah Imam Ali Zainal Abidin. Ketika memandikan jenazahnya, mereka menemukan di punggungnya bekas mengangkat barang-barang berat.”   

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement